Cerpen: Mimpi di Antara Keringat
![]() |
Foto: Ilustrasi Cerita Pendek |
Raka di tengah tantangan ekonomi yang sulit dan mengejar cita-cita
pikirindu.com- Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang anak bernama Raka. Ia duduk di kelas 9 SMP dan memiliki tekad kuat untuk meraih masa depan yang lebih baik. Namun, perjalanan hidupnya tidak mudah. Ayahnya telah meninggal dua tahun lalu, meninggalkan ibu dan adiknya, Sita, yang masih kelas tiga SD. Untuk membantu ibunya, Raka bekerja di warung makan Pak Jaya sepulang sekolah, mencuci piring dan membersihkan meja hingga malam tiba.
Setiap malam, setelah bekerja, Raka selalu menyempatkan diri belajar. Dengan lampu kamar kontrakan yang redup, ia membuka buku dan membaca pelajaran yang akan diujikan. Tangannya sering kali terasa lelah setelah mencuci tumpukan piring, tapi ia tidak ingin menyerah.
"Ibu, Raka yakin bisa dapat nilai bagus di ujian nanti," katanya suatu malam saat ibunya tengah melipat pakaian.
Ibunya tersenyum dan mengelus kepala Raka. "Ibu percaya padamu, Nak. Yang penting, jangan lupa jaga kesehatan."
Hari-hari menjelang ujian semakin berat. Pekerjaan di warung makan bertambah karena pelanggan semakin banyak. Ada kalanya Raka merasa ingin menyerah. Tubuhnya lelah, matanya berat, dan pikirannya dipenuhi rasa khawatir.
Namun, ia teringat pesan ayahnya sebelum meninggal, "Raka, jangan pernah takut bermimpi. Mimpi itu seperti bintang. Kadang terasa jauh, tapi kalau kamu berusaha, suatu saat kamu akan sampai di sana."
Keesokan harinya, ujian pertama dimulai. Raka merasa gugup, tetapi ia mencoba tetap tenang. Soal demi soal ia kerjakan dengan teliti. Beberapa soal sulit, tapi ia berusaha mengingat apa yang sudah dipelajarinya di sela-sela waktu bekerja.
Setiap pulang sekolah, ia kembali bekerja di warung, lalu belajar lagi di malam hari. Begitu terus hingga ujian berakhir. Setelah hari terakhir ujian, Raka merasa lega sekaligus cemas menunggu hasilnya.
Beberapa minggu kemudian, saat pembagian rapor tiba, Raka menggenggam buku rapornya dengan tangan gemetar. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum membuka halaman nilainya. Matanya membelalak. Nilai-nilainya sangat bagus, bahkan ia meraih peringkat pertama di kelas!
Tak percaya, ia segera berlari pulang dan menunjukkan rapornya kepada ibunya. "Bu! Lihat ini!" serunya penuh semangat.
Ibunya menerima rapor itu dengan tangan gemetar dan air mata menggenang di matanya. "Alhamdulillah, Nak. Ibu sangat bangga padamu."
Tak lama setelah itu, kabar prestasi Raka sampai ke kepala sekolah. Ia dipanggil ke ruang guru dan diberikan kabar luar biasa—ia mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan sekolah tanpa biaya!
BACA JUGA: Kebaikan Hati Rina
"Raka, ini hadiah untuk kerja kerasmu. Kami percaya kamu bisa meraih masa depan yang cerah," kata kepala sekolah dengan bangga.
Raka pulang dengan hati yang penuh syukur. Malam itu, ia duduk di meja belajarnya lagi, menatap buku yang telah menjadi saksi perjuangannya. Ia tahu bahwa perjalanan belum berakhir. Masih ada banyak tantangan yang menanti, tapi kini ia lebih yakin bahwa kerja keras dan ketekunan akan selalu membuahkan hasil.
Dengan mata penuh semangat, Raka berbisik pada dirinya sendiri, "Ini baru awal. Aku akan terus berusaha, demi Ibu, demi Sita, dan demi masa depan yang lebih baik."
Pesan Moral: Hidup memang penuh tantangan, tetapi kerja keras, ketekunan, dan keyakinan bisa membawa kita menuju kesuksesan. Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi jika kita berani berjuang.
Mari menulis, kami menanti karya adik-adik semua dalam bentuk cerpen, puisi, dan tulisan lainnya. Silahkan mengirimkan tulisannya ke pikirindu@gmail.com